Sejarah Zumrotut Tholibin Kacangan

YAYASAN ZUMROTUT THOLIBIN KACANGAN ANDONG

Zumrotut Tholibin adalah yayasan pendidikan islami yang berada di dusun Karangjoho, desa Mojo, kecamatan Andong, Kabupaten Boyolali Provinsi Jawa Tengah.

Untuk mencapai Zumrotut Tholibin tidaklah sulit, karena mudah dijangkau dengan kendaraan umum maupun kendaraan pribadi. Apabila dengan kendaraan umum cukup naik kendaraan jalur Gemolong – Karang Gede kemudian turun di Pasar Kacangan. Dari pasar Kacangan ini cukup jalan kaki ke arah selatan kurang lebih 400 m.

Sekitar tahun 1906 seorang Kyai muda yang berasal dari desa Cabean, Kecamatan Toroh, Kabupaten Grobogan sedang mencari tempat untuk mengembangkan dakwah Islam. Akhirnya Kyai muda yang bernama Zuhdi mendatangi desa Kacangan, Kecamatan Andong, Kabupaten Boyolali. Tepatnya di rumah mbah Saniman yang kebetulan memiliki langgar (mushola). Kyai Zuhdi oleh mbah Saniman diminta untuk mengembangkan dakwah dengan mengelola langgar tersebut. Atas ridlo Allah SWT, akhirnya Kyai Zuhdi berhasil mengembangkan langgar tersebut. Makin hari santri yang mengaji di langgar tersebut makin banyak.

Tak jauh dari dukuh Kacangan tempat Kyai Zuhdi tinggal, pada saat itu  di sekitar desa Kacangan telah ada basis pengajian yang dipimpin  oleh Mbah Thoyib dan Mbah Muhsin, akan tetapi belum dikelola secara intensif. Mbah Thoyib adalah naib desa yang kebetulan  pak lik (Om) dari Kyai Zuhdi. Akhirnya mbah Thoyib dan Mbah Muhsin meminta Kyai Zuhdi  untuk membantunya. Dengan bantuan Kyai Zuhdi ini kegiatan  dakwah lebih berkembang. Untuk mengembangkan dakwah yang lebih besar, akhirnya tanah mbah Muhsin mewakafkan tanahnya yang berada di dusun Karangjoho, Desa Mojo, Kecamatan Andong kepada Kyai Zuhdi untuk  dibangun pondok pesantren.  Sejak itulah Kyai Zuhdi yang semula melakukan dakwah di desa Kacangan pindah ke desa Karangjoho. Meskipun pondok pesantren telah berpindah ke Karangjoho pondok pesantren tersebut hingga saat ini lebih dikenal pondok Kacangan.

Kyai Zuhdi yang menguasaai ilmu agama sekaligus memiliki kelebihan dalam ilmu asror dan laduni tidak hanya dikenal oleh masyarakat Kacangan akan tetapi juga terkenal hingga wilayah Boyolali, Sragen, dan Purwodadi. Akhirnya banyak masyarakat dari wilayah tersebut menjadi santri di pondok pesantren yang dipimpin oleh Kyai Zuhdi tersebut. Kepemimpinan Kyai Zuhdi telah menjadikan pondok pesantren mengalami perkembangan pesat. Konon ada kepercayaan, selama kali lor pondok (sungai utara pondok) masih mengalir maka pondok pesantren akan masih tetap hidup. Pada saat Kyai Zuhdi masih hidup, beberapa ulama besar seperti mbah Siraj, mbah Mansur, mbah Khasan Mukmin sering bertandang ke pondok ini karena merasa ta’dzim dengan Kyai Zuhdi.

Pada tahun  1946, Kyai Zuhdi meninggal dunia. Sepeninggal Kyai Zuhdi kegiatan pondok pesantren dikelola oleh putranya yang bernama Kyai Thawaf Muslim dibantu oleh Kyai Ali muhammad (Putra), Kyai Djumairi (Menantu), Kyai Ali Hasan (cucu), Kyai Muslim Khoiri (cucu), Kyai Zarkasi (Santri Kinasih Kyai Zuhdi). Sepeninggal Kyai Zuhdi, pondok pesantren ini diberi nama pondok pesantren Zumrotuth Tholoibin. Kata Zumrotuth  berasal dari kata Zumroh yang berarti perkumpulan dan kata Tholibin yang berarti para pelajar. Jadi kata Zumrotuth Tholibin berarti perkumpulan para pelajar. Selain makna lughowi,  kata Zumrotuth Tholibin,juga memiliki makna historis, karena huruf depan kata Zumrotuth  yakni huruf Z diambil dari nama Zuhdi, sedangkan huruf depan kata Tholibin diambil dari nama Thoyib. Dengan demikian kata Zumrotuth Tholibin, selain memiliki makna lughowi sekaligus untuk mengenang nama para pendiri yakni nama Kyai Zuhdi dan Kyai Thoyib.

Untuk memperkokoh eksistensi pondok pesantren, atas inisiatif Kyai Djumairi yang dibantu oleh Kyai Ali muhammad, Kyai Ali Hasan, dan Kyai Sajidan (keponakan mbah Thoyib) membentuk Yayasan Zumrotuth Tholibin. (Pada saat proses administrasi Yayasan, Kyai Thowaf Muslim sedang pergi ke Jakarta sehingga secara formal tidak tercantum sebagai pendiri Yayasan). Dengan adanya yayasan ini eksistensi pondok pesantren lebih kuat, karena memiliki dasar hukum yang syah. Pembentukan yayasan ini didasarkan pada akta notaris nomor 31 R. Soegondo Notodisoeryo Ska tertanggal 18 Desember 1975 dan mengalami pembaharuan izin dengan akta notaris nomor 07 tanggal 03 Agustus 2016.

Sepeninggal KH Thawaf Muslim, pondok pesantren Zumrotuth Tholibiin dikelola secara kolektif  oleh keturunan KH. Zuhdi yang terdiri dari KH. Ali Muhammad, KH. Ali Hasan, KH. Drs. Muslim Khoiri, Hj. Sutijah (Istri Thawaf Muslim), K.Ali Muhtar dan kerabat lainnya.

Sampai saat ini, setelah KH. Ali Muhammad, KH. Ali Hasan, dan K.Ali Muhtar meninggal, Yayasan Zumrotut Tholibin masih dilanjutkan oleh keturunan-keturunanya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *